DARI 7–8–9 KE 9–8–7: PERSPEKTIF PERUBAHAN PERILAKU MASYARAKAT DI ERA ARTIFICIAL INTELLIGENCE (AI)
DARI 7–8–9 KE 9–8–7: PERSPEKTIF PERUBAHAN PERILAKU MASYARAKAT DI ERA ARTIFICIAL INTELLIGENCE (AI)
Oleh: Bambang JB
Abstrak
Perkembangan Artificial Intelligence (AI) telah membawa perubahan dalam cara masyarakat memperoleh informasi, belajar, bekerja, berkomunikasi, dan mengambil keputusan. Perubahan tersebut dapat direnungkan melalui perspektif urutan angka 7–8–9 dan 9–8–7 sebagai simbol perjalanan berpikir manusia. Urutan 7–8–9 menggambarkan gerak menuju pengembangan pengetahuan, penguatan kemampuan, dan pencapaian. Sebaliknya, urutan 9–8–7 menggambarkan gerak evaluasi, penyeimbangan kemampuan, dan penguatan kembali kesadaran dasar. Artikel ini menggunakan pendekatan konseptual untuk membahas hubungan perkembangan AI dengan perubahan perilaku masyarakat, khususnya dalam hal kemandirian berpikir, produktivitas, interaksi sosial, dan tanggung jawab moral. Urutan angka tersebut bukan hukum matematis penyebab perilaku, melainkan kerangka refleksi yang dapat dikembangkan lebih lanjut melalui penelitian empiris.
Kata kunci: Artificial Intelligence, perubahan perilaku, angka 7–8–9, angka 9–8–7, kesadaran, masyarakat digital.
- Pendahuluan: Ketika Angka Menjadi Perspektif Perubahan
Perubahan zaman tidak hanya ditandai oleh kemajuan alat yang digunakan manusia, tetapi juga oleh perubahan cara manusia berpikir, bersikap, dan bertindak.
Pada masa ketika informasi diperoleh melalui buku, guru, pengalaman, dan pengamatan langsung, proses belajar membutuhkan waktu serta keterlibatan aktif. Kini, perkembangan AI memungkinkan seseorang mendapatkan penjelasan, menyusun tulisan, menganalisis data, menghasilkan gambar, dan memperoleh rekomendasi dalam waktu singkat.
Kemudahan ini menghadirkan pertanyaan penting: apakah perkembangan AI membuat masyarakat semakin mandiri dalam berpikir, atau justru semakin bergantung pada teknologi?
Pertanyaan tersebut dapat dikaji melalui dua susunan angka, yaitu 7–8–9 dan 9–8–7.
Dalam artikel ini, angka tidak diperlakukan sebagai penyebab perubahan perilaku. Angka digunakan sebagai simbol untuk menyusun kerangka pemikiran mengenai perjalanan manusia dalam menghadapi kemajuan teknologi.
Urutan 7–8–9 menggambarkan gerak dari belajar, mengembangkan kemampuan, hingga mencapai hasil. Sementara itu, urutan 9–8–7 menggambarkan gerak sebaliknya: meninjau pencapaian, menata keseimbangan, dan kembali memperkuat dasar kesadaran.
Kedua urutan tersebut mengajak masyarakat memahami bahwa kemajuan tidak hanya membutuhkan kemampuan untuk bergerak maju, tetapi juga kebijaksanaan untuk mengevaluasi arah perjalanan.
- Angka 7–8–9: Simbol Perjalanan Menuju Kemajuan
2.1. Angka 7: Belajar dan membangun kesadaran
Angka 7 digunakan sebagai simbol tahap pembelajaran, pencarian pengetahuan, dan pembentukan kesadaran.
Dalam kehidupan masyarakat, AI memberikan kemudahan untuk mempelajari berbagai bidang. Pelajar dapat memperoleh penjelasan tambahan, guru dapat mengembangkan bahan ajar, dan masyarakat dapat memahami persoalan yang sebelumnya sulit dijangkau.
Namun, kemudahan memperoleh jawaban tidak selalu berarti seseorang telah memahami persoalannya.
Seseorang dapat membaca penjelasan AI tanpa mengetahui sumbernya, mengutip informasi tanpa memeriksa kebenarannya, atau menyelesaikan tugas tanpa memahami proses penyelesaiannya.
Karena itu, perubahan perilaku pada tahap ini perlu diarahkan dari sekadar mencari jawaban menuju kebiasaan bertanya, memeriksa, membandingkan, dan memahami.
AI memperluas akses terhadap pengetahuan, tetapi manusia tetap bertanggung jawab membangun pemahaman.**
2.2. Angka 8: Menguatkan kemampuan dan produktivitas
Angka 8 digunakan sebagai simbol penguatan kemampuan, kesinambungan, dan pengelolaan potensi.
AI dapat membantu masyarakat meningkatkan produktivitas. Pelaku usaha dapat menganalisis pasar, peneliti dapat mengolah data, pendidik dapat menyusun materi pembelajaran, dan pekerja dapat menyelesaikan tugas tertentu secara lebih efisien.
Akan tetapi, kecepatan tidak selalu sejalan dengan ketepatan. Banyaknya informasi juga tidak selalu menghasilkan kedalaman pemahaman.
Masyarakat perlu mengembangkan kemampuan untuk bekerja bersama AI tanpa kehilangan kemampuan berpikir mandiri.
Tiga hal penting yang perlu diperkuat adalah literasi digital, pemikiran kritis, dan tanggung jawab etis.
Dengan demikian, angka 8 menjadi simbol keseimbangan antara kemampuan teknologi dan kualitas manusia. Produktivitas perlu disertai kejujuran, kreativitas, kedisiplinan, dan kepedulian terhadap sesama.
2.3. Angka 9: Pencapaian dan kematangan
Angka 9 digunakan sebagai simbol pencapaian suatu tahap dan kesempatan untuk menilai kematangan.
Ketika AI semakin berkembang, masyarakat dapat menghasilkan pekerjaan dengan lebih cepat, memperoleh informasi dengan lebih mudah, dan mengembangkan berbagai bentuk kreativitas.
Namun, pencapaian teknologi perlu diikuti pertanyaan tentang manfaatnya.
Apakah pendidikan menghasilkan pemahaman atau hanya menghasilkan jawaban? Apakah pekerjaan menjadi lebih bermutu atau sekadar lebih cepat? Apakah komunikasi digital mempererat hubungan manusia atau hanya memperbanyak pertukaran pesan?
Kematangan masyarakat tidak cukup diukur dari kemampuannya menggunakan teknologi. Kematangan juga terlihat dari kemampuannya menilai keterbatasan teknologi, mengakui kesalahan, dan mempertanggungjawabkan keputusan.
Angka 9, dalam kerangka refleksi ini, bukan berarti perjalanan telah selesai. Angka tersebut mengingatkan bahwa setiap pencapaian harus membuka ruang evaluasi.
- Angka 9–8–7: Simbol Evaluasi dan Kembali ke Dasar
Jika urutan 7–8–9 menggambarkan perjalanan menuju pencapaian, urutan 9–8–7 dapat digunakan untuk merenungkan perjalanan kembali dari pencapaian menuju kesadaran dasar.
3.1. Angka 9: Meninjau hasil yang dicapai
Masyarakat perlu mengevaluasi apakah penggunaan AI memberikan manfaat nyata.
Keberhasilan tidak cukup diukur melalui jumlah pekerjaan yang selesai, banyaknya konten yang dihasilkan, atau cepatnya informasi diperoleh.
Perlu pula dinilai kualitas hasil, kemampuan manusia memahami pekerjaan tersebut, manfaat sosial, serta risiko yang mungkin ditimbulkan.
3.2. Angka 8: Menata kembali keseimbangan
Setelah melakukan evaluasi, masyarakat perlu menyeimbangkan penggunaan AI dengan kemampuan manusia.
AI dapat membantu menyelesaikan tugas, tetapi manusia tetap perlu belajar, berlatih, mengawasi, dan mempertanggungjawabkan hasilnya.
Keseimbangan juga diperlukan dalam kehidupan sosial. Komunikasi melalui teknologi hendaknya tidak menghilangkan kebiasaan berdialog secara langsung, mendengarkan dengan empati, dan memahami perasaan orang lain.
3.3. Angka 7: Kembali memperkuat fondasi
Langkah berikutnya adalah memperkuat dasar pengetahuan dan perilaku manusia.
Masyarakat perlu mempertahankan kebiasaan membaca, berpikir kritis, bertanya, berdiskusi, memeriksa fakta, serta belajar dari pengalaman.
Dalam pendidikan, peserta didik perlu mampu menjelaskan kembali materi dengan pemahamannya sendiri. Dalam dunia kerja, seseorang perlu memahami hasil yang dihasilkan dengan bantuan AI. Dalam kehidupan sosial, manusia perlu menjaga kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian.
Dengan demikian, urutan 9–8–7 bukan simbol kemunduran, melainkan ajakan untuk membangun kemajuan di atas fondasi yang kuat.
Bergerak maju membutuhkan kemampuan; menjaga arah kemajuan membutuhkan kesadaran.
- Perubahan Perilaku Masyarakat akibat Perkembangan AI
Perkembangan AI dapat memengaruhi perilaku masyarakat melalui beberapa dimensi.
Pertama, perilaku belajar. Masyarakat semakin mudah memperoleh informasi. Tantangannya adalah mempertahankan kebiasaan memahami, memverifikasi, dan mengembangkan gagasan sendiri.
Kedua, perilaku bekerja. AI memungkinkan otomatisasi sejumlah tugas dan membantu pengambilan keputusan. Perubahan ini menuntut peningkatan keterampilan serta kemampuan beradaptasi.
Ketiga, perilaku berkomunikasi. AI dapat membantu penerjemahan dan komunikasi lintas bahasa. Namun, kualitas hubungan tetap memerlukan empati, perhatian, dan tanggung jawab.
Keempat, perilaku mengambil keputusan. Rekomendasi AI dapat memperluas pertimbangan, tetapi tidak seharusnya diterima tanpa menilai bukti, latar belakang, risiko, dan kepentingan pihak yang terdampak.
Kelima, perilaku moral. Kemudahan menghasilkan tulisan, gambar, dan informasi menuntut kesadaran mengenai kejujuran, hak cipta, privasi, dan penyebaran informasi yang benar.
Perubahan tersebut tidak selalu terjadi dengan arah yang sama pada setiap individu. Dampaknya dipengaruhi oleh pendidikan, pekerjaan, lingkungan sosial, tujuan penggunaan, dan tingkat literasi digital.
Oleh karena itu, dugaan bahwa AI mengubah perilaku masyarakat perlu diteliti melalui data, bukan hanya disimpulkan dari perkembangan teknologinya.
- Hubungan Perspektif Angka dengan Perubahan Sosial
Kerangka 7–8–9 dan 9–8–7 dapat digunakan untuk menyusun pertanyaan penelitian.
|
Aspek |
Perspektif 7–8–9 |
Perspektif 9–8–7
|
|
Pengetahuan |
Memperluas pembelajaran |
Memeriksa kembali pemahaman |
|
Kemampuan |
Meningkatkan produktivitas |
Menjaga kemandirian |
|
Keputusan |
Memanfaatkan rekomendasi AI |
Mengevaluasi bukti dan risiko |
|
Interaksi |
Memperluas komunikasi |
Memperkuat empati |
|
Etika |
Mengembangkan tanggung jawab |
Menilai dampak dan memperbaiki perilaku |
Tabel ini merupakan model konseptual yang dapat digunakan untuk merancang penelitian lebih lanjut.
Sebagai contoh, penelitian dapat dilakukan terhadap pelajar, pendidik, pekerja, atau pelaku usaha untuk mengetahui frekuensi penggunaan AI, tingkat kepercayaan terhadap hasilnya, kebiasaan memverifikasi informasi, kemampuan menyelesaikan tugas secara mandiri, dan perubahan pola interaksi.
Pengukuran sebelum dan sesudah penggunaan AI, jika memungkinkan, dapat membantu menjelaskan perubahan yang terjadi. Penelitian juga perlu mempertimbangkan faktor lain, seperti pendidikan, pengalaman, dan kondisi lingkungan, agar perubahan yang ditemukan tidak langsung dianggap sebagai akibat AI semata.
Dengan cara tersebut, gagasan angka dapat menjadi pintu masuk bagi penelitian sosial yang lebih terukur.
- Perspektif Islam: Ilmu, Tabayyun, dan Tanggung Jawab
Perkembangan AI perlu dihadapi dengan semangat mencari ilmu, ketelitian dalam menerima informasi, dan tanggung jawab moral.
Alloh SWT berfirman:
“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isra' [17]: 36).
Ayat ini mengingatkan manusia agar tidak mengikuti sesuatu tanpa pengetahuan yang memadai. Dalam latar belakang AI, jawaban yang tampak meyakinkan tetap perlu diperiksa kebenaran dan sumbernya.
Alloh SWT juga berfirman dalam QS. Al-Hujurat [49]: 6 tentang pentingnya tabayyun, yaitu memeriksa kebenaran berita yang diterima. Prinsip ini relevan ketika masyarakat menghadapi informasi digital, termasuk informasi yang dibuat atau dirangkum oleh AI.
Rosululloh SAW bersabda:
“Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.”(HR. Muslim).
Hadis tersebut menegaskan pentingnya perjalanan mencari ilmu. Dalam era AI, mencari ilmu tidak cukup berhenti pada memperoleh jawaban, tetapi juga mencakup proses memahami, menguji, dan mengamalkan pengetahuan secara benar.
Pemikiran Imam Al-Ghazali mengenai hubungan ilmu dan akhlak juga memberikan bahan refleksi. Pengetahuan seharusnya mendukung perbaikan diri dan perilaku, bukan hanya menjadi sarana memperoleh pengakuan atau keuntungan.
Dalam kerangka ini, teknologi merupakan sarana yang dapat dimanfaatkan untuk kebaikan. Tanggung jawab moral atas penggunaannya tetap berada pada manusia sesuai peran dan tindakannya.
- Implikasi bagi Pendidikan dan Kehidupan Masyarakat
Agar perkembangan AI menghasilkan manfaat yang berkelanjutan, beberapa langkah perlu dilakukan.
- Dalam pendidikan: penggunaan AI perlu disertai penilaian terhadap pemahaman, kemampuan menjelaskan, kreativitas, dan integritas akademik.
- Dalam dunia kerja: masyarakat perlu meningkatkan keterampilan agar mampu beradaptasi dengan perubahan tugas dan kebutuhan kompetensi.
- Dalam keluarga: penggunaan teknologi perlu diimbangi dialog, perhatian, dan hubungan langsung yang bermakna.
- Dalam kehidupan sosial: masyarakat perlu menjaga etika komunikasi, privasi, empati, dan tanggung jawab terhadap informasi.
- Dalam kebijakan publik: keberhasilan penerapan AI perlu dinilai berdasarkan manfaat, keadilan, keamanan, dan dampaknya terhadap masyarakat.
Langkah-langkah ini membantu masyarakat menggunakan AI bukan sekadar untuk mempercepat pekerjaan, melainkan juga untuk meningkatkan kualitas kehidupan.
- Kesimpulan: Urutan Angka Berubah, Kesadaran Menentukan Arah
Perspektif 7–8–9 dan 9–8–7 menawarkan cara simbolik untuk merenungkan perubahan perilaku masyarakat di era AI.
Urutan 7–8–9 menggambarkan perjalanan dari pembelajaran menuju penguatan kemampuan dan pencapaian. Urutan 9–8–7 mengajak manusia meninjau hasil, menyeimbangkan kemampuan, dan kembali memperkuat fondasi pengetahuan serta kesadaran.
Keduanya dapat dipahami sebagai dua gerak yang saling melengkapi: kemajuan dan evaluasi. Masyarakat membutuhkan keduanya agar tidak terjebak dalam penggunaan teknologi yang hanya mengejar kecepatan dan kemudahan.
Angka tidak menentukan kualitas perilaku manusia, sebagaimana AI tidak dengan sendirinya menentukan arah kehidupan masyarakat. Faktor yang menentukan tetap meliputi pengetahuan, pendidikan, nilai moral, lingkungan, dan keputusan manusia.
Pada akhirnya, pertanyaan terpenting bukanlah seberapa cepat AI berkembang, melainkan bagaimana manusia mengarahkan perkembangan tersebut agar membawa manfaat.
Dari 7–8–9 menuju 9–8–7, manusia diajak untuk belajar, menguatkan kemampuan, mencapai kemajuan, mengevaluasi hasil, dan kembali meneguhkan kesadaran. Sebab, teknologi dapat membantu manusia melangkah lebih cepat, tetapi kebijaksanaan diperlukan agar langkah itu tidak kehilangan arah.