Sang Pentasbih
MEMORIUM SINGA PODIUM
SANG PETASBIH
Oleh Bambang JB
Dahulu ia singa di atas podium,
Suaranya menggema membelah keheningan,
Kata-katanya menyala membakar semangat,
Mengajak insan berpikir, bergerak, dan berjuang.
Waktu berjalan, usia pun berbicara,
Gemuruh tepuk tangan menjadi kenangan,
Podium yang dahulu saksi keberanian,
Kini tersimpan dalam lembaran perjalanan.
Sang petasbih merangkai zikir dalam jemari,
Subhanallah mengalun menemani hari,
Dari lantang bicara menuju heningnya hati,
Mencari makna hidup dalam rida Ilahi.
Bukan berarti perjuangan telah usai,
Bukan pula semangat kehilangan nilai,
Singa podium tetap hidup dalam ingatan,
Sang petasbih menapaki jalan penghambaan.
Dahulu kata-kata menggetarkan manusia,
Kini tasbih mengingatkan dirinya kepada Yang Mahakuasa, Sebab kemuliaan bukan sekadar dikenal dunia, Melainkan meninggalkan kebaikan yang bermakna.
Renungan
Podium mengajarkan kita menyampaikan suara; tasbih mengajarkan kita menata jiwa. Ketika usia membawa langkah menuju senja, semoga yang tertinggal bukan hanya gema kata, melainkan amal, keteladanan, dan doa.
Landasan
- QS. Ar-Ra'd: 28 — Dengan mengingat Alloh, hati menjadi tenteram.
- QS. Al-Isra': 84 — Setiap orang berbuat menurut pembawaan atau kecenderungannya masing-masing.
- Hadis riwayat Muslim — Dua kalimat yang ringan di lisan, berat dalam timbangan, dan dicintai Ar-Rahman: Subhanallahi wa bihamdihi, Subhanallahil 'Azhim.