KETIKA ANGGARAN MENYEMPIT, SIAPA YANG PALING BERISIKO TERTINGGAL?
KETIKA ANGGARAN MENYEMPIT, SIAPA YANG PALING BERISIKO TERTINGGAL?
Dr. Siti Sanisa, M.Pd (Dosen FKIP Universitas Muhammadiyah Mataram)
Dr. Nur Kumala Dewi, S. Kom., M.Pd.
(Analis Kebijakan Ahli Madya/ Kementerian Agama RI/ Universitas Saintek Muhammadiyah Jakarta)
Bayangkan sebuah rapat di madrasah menjelang awal semester. Dana yang tersedia hanya cukup untuk satu dari tiga rencana: pelatihan guru, penyediaan bahan belajar bagi murid yang sulit mengaksesnya, atau pendampingan bagi mereka yang mulai tertinggal. Ketiganya masuk akal. Rapat hampir selesai ketika seorang wali kelas membuka catatannya. Beberapa murid belakangan sering absen. Ada yang berbagi gawai dengan saudaranya. Ada pula yang selalu datang, tetapi makin jarang mengumpulkan tugas.
Catatan itu mengubah percakapan. Sebelum menentukan kegiatan yang akan dibiayai, tim perlu tahu mengapa murid-murid itu mulai tertinggal. Bagi anak yang menunggu ponsel orang tuanya pulang, bahan cetak mungkin cukup membantu. Bagi anak yang sudah tiga pekan tidak memahami pecahan, tambahan lembar soal bisa membuatnya semakin enggan membuka buku. Mereka sama-sama tidak mengumpulkan tugas. Bantuan yang mereka perlukan berbeda.
Dilema itu membawa saya kembali pada buku Strategi dalam Krisis: Model Manajemen Pendidikan di Tengah Dinamika Era 4.0, yang saya tulis bersama Siti Sanisah. Dalam buku tersebut, kami membahas bagaimana tekanan anggaran menguji kemampuan lembaga pendidikan membaca kebutuhan dan menentukan prioritas. Kini saya ingin membawa pembahasan itu ke satu meja rapat. Ketika madrasah harus berhemat, bagaimana kita memastikan bahwa murid yang paling sedikit memiliki pilihan tetap bisa belajar?
Angka rata-rata dan anak yang luput dari perhatian
Dalam PISA 2022, murid usia 15 tahun di Indonesia dari seperempat kelompok dengan status sosial ekonomi tertinggi unggul 43 poin dalam matematika dibandingkan murid dari seperempat kelompok terbawah. Angka nasional itu menunjukkan adanya kesenjangan capaian antara dua kelompok. Ia tidak menjelaskan penyebab ketertinggalan seorang murid di sebuah madrasah. Untuk menjawab pertanyaan itu, tim perlu melihat catatan kelas dan mendengar pengalaman murid serta keluarganya. (OECD, 2023.)
Pasal 31 ayat (1) UUD 1945 menegaskan hak setiap warga negara untuk mendapat pendidikan. Bagi saya, salah satu cara menerjemahkannya dalam rapat anggaran adalah memeriksa apakah penghematan akan membuat layanan yang sudah sulit dijangkau menjadi semakin jauh. Jika bahan ajar dialihkan seluruhnya ke format digital, misalnya, tim perlu mengetahui siapa yang akan tetap bisa belajar dari rumah dan siapa yang memerlukan cara lain. Pertanyaan itu membantu kepala madrasah menilai konsekuensi pilihan sebelum angka-angka dalam rencana anggaran disepakati.
Bab X buku kami mencatat contoh belajar keliling di Malang pada masa pandemi. Guru mendatangi kelompok kecil murid secara bergiliran ketika pembelajaran tatap muka biasa terganggu. Buku juga mencatat penggunaan modul cetak dan WhatsApp di sejumlah sekolah. Uraian itu memperlihatkan pilihan yang diambil untuk menjangkau murid dalam keadaan darurat. Dari contoh Malang, pelajaran yang saya ambil adalah bahwa sekolah perlu memahami hambatan murid terlebih dahulu agar dapat memilih cara yang sesuai untuk menjangkaunya. (Sanisah & Dewi, 2025, hlm. 261–262.)
Tiga pertanyaan sebelum anggaran diputuskan
Bab VI buku kami membahas keputusan berbasis bukti. Bab XI menghubungkannya dengan keadilan akses dan mutu. Sebagai analis kebijakan, saya terbiasa bertanya siapa yang akan menerima manfaat dari sebuah keputusan. Sebagai dosen, saya juga melihat betapa mudahnya salah membaca alasan seseorang tertinggal jika kita hanya memeriksa daftar nilai. Dari dua pengalaman itu, saya mengusulkan tiga pertanyaan yang bisa dibawa kepala sekolah atau madrasah ke rapat anggaran.
Pertama, siapa yang paling terdampak jika layanan dikurangi? Mulailah dari catatan kehadiran, tugas, dan asesmen singkat. Lalu tanyakan kepada murid apa yang membuatnya kesulitan. Jika sejumlah anak selalu hadir tetapi gagal pada keterampilan dasar yang sama, guru dapat menelusuri materi mana yang belum mereka kuasai. Jika mereka justru sering absen atau terlambat mengakses tugas, wali kelas bisa berbicara dengan keluarga untuk memahami kendalanya. Catatan kelas memberi petunjuk awal. Percakapan dengan murid membantu tim menafsirkan petunjuk itu.
Kedua, layanan apa yang harus didahulukan? Dalam ilustrasi tadi, anggap asesmen awal menunjukkan bahwa sebagian besar murid yang dirujuk wali kelas belum menguasai pecahan dasar. Mereka dapat hadir di madrasah dan punya akses ke bahan belajar. Dengan temuan itu, saya akan mendahulukan pendampingan dalam kelompok kecil. Guru bisa mengulang keterampilan yang belum dikuasai dan segera melihat bagian mana yang masih membingungkan. Jika hasil penelusurannya berbeda, misalnya banyak murid kesulitan mendapatkan bahan belajar, prioritas anggarannya pun bisa berubah. Alasan pemilihan layanan perlu dicatat bersama temuan yang mendasarinya.
Ketiga, bukti apa yang akan diperiksa setelah keputusan diambil? Sebelum pendampingan dimulai, guru mencatat siapa yang perlu dijangkau dan keterampilan apa yang belum mereka kuasai. Enam minggu kemudian, tim memeriksa dua hal: apakah murid sasaran benar-benar mengikuti pendampingan dan apakah mereka mulai mampu menyelesaikan soal sejenis secara mandiri. Jika yang hadir justru murid yang sejak awal mudah datang, tim perlu meninjau jadwal atau cara menghubungi keluarga. Jika murid hadir tetapi masih keliru pada langkah yang sama, guru perlu menyesuaikan cara mengajar. Hasil enam minggu itu membantu tim menentukan tindakan berikutnya.
Ketiga jawaban tersebut bisa dicatat dalam satu halaman dan dilampirkan pada hasil rapat. Isinya sederhana: siapa yang perlu dijangkau, layanan yang dipilih, alasan memilihnya, penanggung jawab, dan tanggal peninjauan. Bagi guru, catatan itu memberi pegangan saat menjalankan program. Bagi keluarga, ia memberi dasar untuk memahami mengapa satu kegiatan didahulukan. Bagi kepala madrasah, ia membantu menjelaskan apa yang akan diperbaiki jika hasilnya belum sesuai harapan.
Amanah yang sampai ke ruang kelas
QS An-Nisa [4]:58 mengingatkan tentang menunaikan amanah dan menetapkan keputusan dengan adil. Dalam rapat anggaran, pesan itu menuntut kita mendengar keterangan yang mungkin hanya disampaikan oleh satu wali kelas. Suaranya bisa membawa kita kepada murid yang hadir setiap hari tetapi sudah lama tidak memahami pelajaran. Setelah kebutuhannya diketahui, tim punya alasan untuk mendahulukan bantuan yang bisa ia gunakan.
Di akhir rapat yang kita bayangkan tadi, madrasah memilih mendanai pendampingan kelompok kecil karena asesmen awal menunjukkan kesulitan pada materi dasar. Enam minggu kemudian, kepala madrasah dan guru memeriksa apakah murid yang semula kesulitan sudah terjangkau dan mulai mampu mengerjakan soal secara mandiri. Jika masih ada yang belum terjangkau, tim punya tanggung jawab untuk mencari tahu sebabnya dan menyesuaikan layanan. Bagi saya, begitulah cara mencintai Kementerian Agama dan merawat kepercayaan keluarga kepada madrasah. Kita bisa menjelaskan mengapa sebuah keputusan diambil dan mau kembali ke ruang kelas untuk melihat siapa yang masih membutuhkan bantuan.
Buku ini mengajak kita berkelana lebih dalam akan Krisis multidimensi, baik sosial, ekonomi, maupun teknologi, menuntut lembaga pendidikan untuk tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu beradaptasi dan berkembang. Buku ini menyajikan beragam model manajemen strategi yang dapat digunakan dalam dunia pendidikan, mulai dari teori klasik hingga pendekatan kontemporer yang responsif terhadap perubahan zaman. Ditulis dengan gaya yang menggabungkan pendekatan akademik dan narasi populer, buku ini menawarkan pemahaman menyeluruh namun tetap mudah diakses oleh mahasiswa, guru, profesional pendidikan, hingga masyarakat umum. Setiap bab tidak hanya menjelaskan teori, tetapi juga merefleksikan aplikasinya dalam konteks nyata, krisis global, dan perubahan sistemik.
Pembaca akan diajak menyelami bagaimana strategi dapat dibangun, dijalankan, dan dievaluasi dalam kondisi penuh ketidakpastian. Buku ini tidak sekadar menjawab "apa" dan "bagaimana", tapi juga mengajak berpikir "mengapa" strategi itu penting, terutama ketika pendidikan menghadapi ujian zaman.