KARYA ILMIAH DAN PENELITIAN BUKAN SEKADAR SELESAI
SKRIPSI BUKAN SEKADAR SELESAI
Penelitian Perlu Bisa Dipertanggungjawabkan
Catatan Penulis atas Buku Metodologi Penelitian Pendidikan dan Teknik
Berkas bernama “Skripsi Final” sudah berubah menjadi “Final Revisi”, lalu “Final Revisi Terbaru”. Di grup angkatan, teman-teman mulai membagikan kabar jadwal sidang. Sementara itu, satu pertanyaan pembimbing masih berputar di kepala: “Mengapa memilih metode ini?”
Ilustrasi itu mungkin terasa akrab bagi mahasiswa. Ada keinginan segera lulus, biaya yang terus berjalan, dan harapan keluarga yang ingin ditunaikan. Dalam keadaan seperti itu, revisi beberapa halaman pun bisa terasa berat.
Namun, pertanyaan pembimbing perlu dijawab. Mengapa masalah tersebut dipilih? Bagaimana data akan diperoleh? Apa yang membuat kesimpulannya layak dipercaya?
Sebagai dosen Universitas Saintek Muhammadiyah Jakarta, saya memandang pembelajaran metodologi perlu membantu mahasiswa menjawab pertanyaan tersebut dengan lebih tenang. Semangat itulah yang saya tuangkan dalam buku Metodologi Penelitian Pendidikan dan Teknik: Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, dan R&D, terbitan Alungcipta, Juni 2026.
Melalui catatan ini, saya mengajak pembaca membuka beberapa bagiannya. Sebagai penulis, saya berharap buku tersebut digunakan sambil menyusun dan memeriksa rancangan penelitian, sehingga manfaatnya dapat dirasakan dalam pekerjaan yang sedang dihadapi.
Sebelum menetapkan judul
Judul sering menjadi hal pertama yang ingin segera dipastikan. Wajar, sebab pertanyaan “Judulnya apa?” kerap datang lebih awal daripada pembicaraan mengenai persoalan penelitian.
Kesulitan muncul ketika judul sudah terlihat meyakinkan, tetapi peneliti belum dapat menjelaskan apa yang sebenarnya ingin diketahui.
Buku ini memulai pembahasan dari landasan filosofis dan paradigma penelitian. Istilah ontologi, epistemologi, dan aksiologi mungkin terasa jauh dari pekerjaan menyusun skripsi. Padahal, ketiganya mengajak kita memikirkan apa yang diteliti, bagaimana pengetahuan diperoleh, dan untuk apa hasilnya digunakan.
Pada halaman 42–56, pembahasan bergerak menuju penyusunan masalah, tujuan, dan hipotesis. Pembaca diperkenalkan pada observasi awal, pembatasan lingkup persoalan, serta perumusan pertanyaan penelitian.
Cobalah menjelaskan persoalan penelitian dalam satu paragraf tanpa menyebut judul. Jika penjelasannya masih berputar-putar, mungkin kita perlu membaca dan mengamati lagi. Langkah kecil ini dapat membantu sebelum waktu dan tenaga terlanjur banyak digunakan untuk mengumpulkan data.
Memilih metode yang dapat dijelaskan
Bayangkan partisipasi mahasiswa dalam sebuah kelas menurun. Sebagian jarang bertanya, beberapa enggan berdiskusi, dan tugas kelompok hanya dikerjakan oleh orang tertentu.
Seorang peneliti ingin memahami pengalaman mahasiswa di kelas tersebut. Peneliti lain ingin menguji hubungan suasana kelas dengan partisipasi. Ada pula yang ingin mengembangkan media pembelajaran untuk membantu keterlibatan mereka.
Keadaan awalnya berdekatan, tetapi pertanyaan yang diajukan membawa kebutuhan data berbeda.
Bab 2 membahas pendekatan kualitatif, Bab 3 menguraikan kuantitatif, sedangkan Bab 4 membahas penelitian pengembangan. Pembaca dapat menggunakan bagian-bagian ini untuk mempertimbangkan cara mencari jawaban sesuai tujuan penelitian.
Pembahasan kualitatif mencakup desain, pengumpulan data, analisis, dan keabsahan temuan. Pada bagian kuantitatif, pembaca mempelajari populasi, sampel, pengukuran, instrumen, validitas, reliabilitas, hingga analisis statistik.
Saat membaca, hubungkan penjelasannya dengan rancangan sendiri. Mengapa wawancara diperlukan? Apa yang hendak diukur melalui angket? Bagaimana hasilnya akan dianalisis?
Dari pertanyaan itulah alasan pemilihan metode mulai tersusun. Mahasiswa mempunyai bahan untuk berdiskusi, termasuk ketika pilihannya masih perlu diperbaiki.
Ketika produk sudah jadi
Bagi mahasiswa pendidikan dan teknik, penelitian dapat berangkat dari kebutuhan mengembangkan bahan ajar, media pembelajaran, atau perangkat yang membantu pekerjaan.
Bab 4 memperkenalkan penelitian dan pengembangan atau research and development. Beberapa model yang dibahas ialah Borg dan Gall, 4D, Dick dan Carey, serta ADDIE. Pembahasan dilanjutkan dengan validasi ahli, uji coba, revisi, dan pengujian efektivitas.
Bagian ini membantu pembaca melihat pekerjaan yang masih menunggu setelah produk dibuat.
Sebuah media pembelajaran mungkin tampil menarik dan dapat dijalankan. Namun, apakah isinya sesuai kebutuhan? Apakah petunjuknya mudah dipahami? Jika hendak dinyatakan efektif, bukti apa yang tersedia?
Penilaian ahli, pengalaman pengguna, dan hasil pengujian perlu dibaca menurut fungsi masing-masing. Kesimpulan yang dibuat pun harus mengikuti bukti yang diperoleh.
Buku ini dapat digunakan untuk mengenali tahapannya. Selanjutnya, peneliti perlu mendalami sumber asli model yang dipilih dan menyesuaikan penerapannya dengan konteks penelitian.
Menulis agar pembaca dapat mengikuti
Setelah data terkumpul, tantangan berikutnya adalah menjelaskan temuan. Pembaca perlu melihat hubungan antara pertanyaan awal, hasil analisis, pembahasan, dan kesimpulan.
Bab 5 membahas penulisan laporan dan publikasi ilmiah. Di dalamnya terdapat struktur laporan, sitasi dan daftar pustaka, pengelolaan referensi dengan Mendeley, penyusunan artikel jurnal, serta panduan skripsi, tesis, dan disertasi.
Bagian ini berguna dibaca sejak proposal disusun. Catatan sumber dan dokumentasi penelitian dapat disiapkan secara lebih tertib, sehingga penulis tidak harus mencari kembali semuanya menjelang tenggat.
Pengelola referensi membantu pekerjaan teknis. Meski demikian, nama pengarang, tahun, judul, dan kesesuaian kutipan dengan sumbernya tetap perlu diperiksa.
Ada pula tanggung jawab memahami gagasan yang dirujuk. Kutipan akan lebih bermakna ketika penulis dapat menjelaskan hubungannya dengan persoalan yang dibahas.
Temuan yang tidak sesuai harapan
Ada saatnya hasil penelitian mengecewakan. Hubungan yang diperkirakan kuat ternyata lemah. Produk masih mendapat banyak catatan. Wawancara justru memperlihatkan persoalan yang tidak terpikirkan sebelumnya.
Setelah bekerja cukup lama, peneliti mungkin berharap hasilnya lebih mudah dijelaskan. Namun, data tetap perlu dilaporkan sebagaimana ditemukan.
Pada halaman 278–282, buku membahas etika akademik dan plagiarisme. Pembahasannya mencakup kejujuran pelaporan, perlindungan subjek penelitian, kepengarangan, dan pengakuan terhadap karya orang lain.
Tanggung jawab tersebut hadir dalam keputusan sehari-hari: menjaga identitas partisipan, mencatat proses secara tertib, dan memberi pengakuan atas gagasan yang digunakan.
Surah Al-Isra ayat 36 mengingatkan agar manusia tidak mengikuti sesuatu tanpa pengetahuan. Dalam penelitian, pesan ini dapat menjadi pengingat untuk memeriksa dasar pernyataan dan berhati-hati menarik kesimpulan.
Mengakui keterbatasan juga membantu pembaca memahami sejauh mana temuan dapat digunakan. Penjelasan yang terbuka memberi ruang bagi penelitian berikutnya untuk melanjutkan pertanyaan yang belum terjawab.
Satu lembar sebelum bimbingan
Dari pembacaan buku ini, saya menawarkan latihan sederhana. Siapkan satu lembar berisi masalah, pertanyaan penelitian, data yang diperlukan, cara memperolehnya, dan rencana analisis.
Latihan ini membantu memeriksa keselarasan rancangan; bukan model metodologi baru. Jika pertanyaannya mengenai pengalaman, apakah pengumpulan datanya memberi ruang memahami pengalaman itu? Jika ingin menyimpulkan efektivitas, apakah rancangan pengujiannya mendukung?
Setelah bimbingan, catat alasan di balik setiap perubahan. Misalnya, mengapa pertanyaan dipersempit atau cara pengumpulan data disesuaikan. Catatan ini membantu mahasiswa memahami perkembangan rancangannya, sehingga revisi menjadi proses belajar yang dapat diikuti kembali.
Pembaca juga dapat menandai bagian buku yang menjawab kebingungannya, lalu menuliskan pertanyaan yang masih tersisa. Dengan cara itu, kegiatan membaca menghasilkan bahan diskusi yang nyata dan kebutuhan penelusuran sumber berikutnya.
Bawa lembar tersebut ke ruang bimbingan. Mahasiswa dan pembimbing dapat membicarakan pilihan yang lebih jelas, beserta alasan dan bagian yang masih perlu dibenahi.
Cakupan buku ini luas. Karena itu, penggunaannya perlu dilengkapi dengan sumber metodologi asli, penelitian terbaru, pedoman kampus, dan arahan pembimbing. Pembaca dapat memilih bagian sesuai kebutuhan, mencoba menerapkannya, lalu kembali membaca ketika menemui kebingungan.
Harapan saya, mahasiswa menyelesaikan penelitian dengan keyakinan yang tumbuh dari proses yang dipahami. Ketika ditanya alasan memilih metode, mereka dapat menjelaskan. Ketika menyampaikan kesimpulan, mereka mampu menunjukkan dasarnya.
Kebiasaan mencari pengetahuan dengan jujur juga relevan bagi pendidikan dan pelayanan yang dikembangkan Kementerian Agama. Kecintaan kepada institusi dapat diwujudkan melalui kontribusi ilmiah yang teliti, bermanfaat, dan layak dipercaya.
Kelak, berkas “Skripsi Final” memang perlu benar-benar selesai. Semoga setelah halaman terakhir ditutup, penulisnya membawa bekal untuk perjalanan berikutnya: lebih teliti menilai informasi, terbuka menerima koreksi, dan berani bertanggung jawab atas pengetahuan yang disampaikan.
Buku yang dibahas
Dewi, N. K. (2026). Metodologi penelitian pendidikan dan teknik: Pendekatan kualitatif, kuantitatif, dan R&D. Alungcipta. ISBN 978-634-7658-77-7.