Lewati ke Konten Utama
Haru dan Hara

Haru dan Hara

Kategori
Artikel
Tanggal
4 November 2026
Dilihat
11 Views

KETUKAN HATI

Haru dan Hara

Oleh Bambang JB

Ada ketukan yang terdengar oleh telinga, ada pula ketukan yang hanya dapat dirasakan oleh hati. Ketukan itu kadang menghadirkan haru, kadang membangkitkan hara. Sebab kehidupan bukan sekadar tentang apa yang kita dengar, melainkan bagaimana kita merasakan dan memaknainya.

Haru adalah getaran rasa ketika jiwa tersentuh oleh kenangan, kehilangan, kasih sayang, dan kenyataan hidup. Ia dapat menghadirkan air mata, bukan karena kelemahan, melainkan karena masih ada kelembutan dalam hati.

Hara, dalam ungkapan ini, kita maknai sebagai daya kehidupan yang menumbuhkan harapan, semangat, dan keberanian untuk melangkah. Haru menyadarkan rasa, sementara hara menggerakkan daya.

Hati memiliki ketukan yang tidak selalu seirama dengan langkah kaki.

Ada haru ketika mengingat perjalanan yang telah berlalu, ada hara ketika menyadari bahwa hari esok masih terbuka.

Ada tangis yang mengajarkan kesabaran, ada senyum yang menghidupkan harapan.

Jangan biarkan haru menjadikan kita terpuruk, dan jangan biarkan hara menjadikan kita lupa bersyukur.

Keduanya perlu dituntun oleh iman, agar rasa tidak kehilangan arah dan semangat tidak kehilangan batas.

Alloh SWT berfirman:

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

Alā bidzikrillāhi tathma'innul qulūb.

"Ingatlah, hanya dengan mengingat Alloh hati menjadi tenteram."(QS. Ar-Ra'd: 28)

Rosululloh SAW bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

"Sesungguhnya Alloh tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian."(HR. Muslim)

Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumuddin mengingatkan pentingnya menjaga dan membersihkan hati. Hati bukan sekadar tempat bersemayamnya perasaan, tetapi pusat kesadaran yang memengaruhi perilaku manusia.

Penutup

Haru bukan akhir dari perjalanan, Hara bukan sekadar keinginan. Haru mengajarkan kedalaman rasa, Hara mengajarkan kekuatan asa. Ketika keduanya bertemu dalam kesadaran, lahirlah keteguhan dalam menjalani kehidupan.

Sebab hati yang hidup bukan hati yang tidak pernah menangis, melainkan hati yang tetap mampu berharap, bersyukur, dan kembali kepada Alloh SWT.