Lewati ke Konten Utama
SEBELUM JUALAN ONLINE,  SUDAHKAH KITA MENGUJI IDE USAHA?

SEBELUM JUALAN ONLINE, SUDAHKAH KITA MENGUJI IDE USAHA?

Nur Kumala Dewi
Penulis
Nur Kumala Dewi
Kategori
Artikel
Tanggal
6 November 2026
Dilihat
12 Views

SEBELUM JUALAN ONLINE, SUDAHKAH KITA MENGUJI IDE USAHA?

 

Dr. Nur Kumala Dewi, S. Kom., M.Pd. (Analis Kebijakan Ahli Madya/ Kementerian Agama RI/ Universitas Saintek Muhammadiyah Jakarta)

Assoc. Prof. Dr. Husnul Khatimah, S.E., M.Si (akademisi, peneliti, dan praktisi di bidang manajemen, komunikasi bisnis, ekonomi digital, serta pengembangan organisasi)

 Yuni Astuti Tri Tartiania, S.E., M.M (Dosen pada Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Muhammadiyah Indonesia)

 

 Dita nyaris membeli bahan untuk 30 porsi makan siang. Mahasiswi dalam ilustrasi ini sudah menyiapkan nama merek, desain kemasan, dan akun toko. Ketika ia mengunggah foto menu ke grup kelas, teman-temannya ramai memberi tanda suka. Seorang teman bahkan menyarankan agar ia langsung menerima pesanan untuk seminggu. Lalu muncul satu pertanyaan di grup, “Kalau kelas selesai jam satu, makanannya masih bisa diambil?”

Satu pertanyaan itu mengubah rencananya. Selama ini Dita sibuk memikirkan menu. Temannya justru memikirkan kapan ia bisa makan. Dari situ saya ingin mengajak pembaca menengok kembali buku yang saya tulis bersama Husnul Khatimah dan Yuni Astuti Tri Tartiani, Bisnis dan Kewirausahaan di Era Digital: Konsep, Strategi dan Implementasi Praktis. Sebelum membayar bahan, mencetak kemasan, atau memasang iklan, apa yang perlu kita ketahui agar sebuah ide layak dicoba?

Dengarkan masalahnya sebelum menawarkan produk

Badan Pusat Statistik mencatat jumlah usaha e-commerce di Indonesia pada 2024 meningkat 15,30 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Bagi mahasiswa, kanal digital bisa menjadi tempat menawarkan produk pertama. Angka pertumbuhan itu memberi gambaran tentang perkembangan pasar. Untuk menentukan apa yang layak dijual di sekitar kampus, Dita tetap perlu mendengar calon pembelinya. BPS, Statistik E-Commerce 2024 · Ringkasan BPS Kabupaten Kaur

Bab 4 membahas design thinking, pendekatan yang mengajak kita memahami pengalaman pengguna sebelum merancang dan menguji solusi. Dalam ilustrasi Dita, percakapan bisa dimulai dengan pertanyaan sederhana. “Kemarin, kamu makan siang di mana? Apa yang bikin susah?” Pertanyaan tentang pengalaman yang baru terjadi bisa menghasilkan jawaban lebih konkret. Mungkin ada mahasiswa yang kesulitan mencari makanan saat jeda kelas singkat. Ada pula yang punya waktu cukup, tetapi enggan mengantre karena harus segera berangkat kerja paruh waktu.

Dua jawaban itu bisa membawa Dita ke dua tawaran berbeda. Ia bisa menguji pengambilan saat pergantian kelas atau menawarkan jam ambil yang lebih siang bagi mahasiswa yang langsung berangkat kerja setelah kuliah. Bab 4 juga memperkenalkan Business Model Canvas. Untuk latihan awal, Dita dapat memakai bagian tentang pelanggan dan nilai yang ditawarkan untuk merumuskan siapa yang hendak ia layani dan mengapa orang itu bersedia membeli. Bagi mahasiswa yang dikejar waktu, kepastian jam ambil bisa lebih berharga daripada pilihan menu yang banyak.

Dari tanda suka ke pesanan pertama

Bab 5 membawa pembaca dari validasi ide ke studi kelayakan sederhana, kebutuhan modal, dan persiapan operasional. Dita membuka pemesanan untuk maksimal sepuluh porsi dalam satu hari. Ia berencana memasak sesuai jumlah pesanan yang masuk sebelum tenggat. Ia menyampaikan menu, harga, lokasi, batas waktu pemesanan, dan jam pengambilan. Kali ini, teman-temannya punya tawaran yang bisa mereka pertimbangkan. Mereka dapat memesan, bertanya, atau melewatkannya.

Enam orang memesan. Empat bisa datang saat jeda kelas, sementara dua lainnya baru selesai kuliah lewat pukul satu. Dita pun menawarkan dua jam pengambilan. Hasil itu cukup untuk merancang percobaan berikutnya. Sebelum menambah porsi, ia masih perlu melihat apakah pembeli datang pada waktu yang disepakati dan bersedia memesan lagi pada harga yang sama. Enam pesanan dari lingkungan pertemanan memberi petunjuk awal tentang permintaan di kampus.

Di kelas, saya akan meminta mahasiswa membawa dua catatan dari percobaan ini. Catatan pertama berisi apa yang mereka duga sebelum menawarkan produk. Catatan kedua berisi apa yang sungguh terjadi. Apakah orang yang mengatakan tertarik juga memesan? Apakah yang memesan datang pada jam yang disepakati? Ketika kedua catatan dibaca berdampingan, mahasiswa bisa menjelaskan alasan di balik keputusan mereka, termasuk saat sebuah ide perlu diubah.

Saat pesanan datang, sanggupkah kita memenuhinya?

Di titik ini, pengalaman Lina dalam Bab 8 memberi pelajaran penting. Butik pakaiannya memiliki pelanggan dan omzet yang cukup tinggi. Namun, ia kesulitan membeli stok dan membayar biaya operasional. Pencatatan belum rutin, uang pribadi bercampur dengan uang usaha, dan pembayaran tempo membuat sebagian penjualan masih berupa piutang. Perbaikan dimulai ketika Lina menata pencatatan, memisahkan rekening, dan lebih selektif memberi tempo. (Bab 8, hlm. 154–155.)

Dita dapat mengambil pelajaran itu sebelum menerima pesanan lebih banyak. Misalnya, enam porsi seharga Rp20.000 menghasilkan penjualan Rp120.000 bila semuanya terjual. Jika bahan dan kemasan memerlukan Rp84.000 sebelum memasak dan pembeli membayar saat mengambil, ia perlu menyediakan Rp84.000 lebih dulu. Setelah dikurangi bahan dan kemasan, tersisa Rp36.000 untuk menutup biaya lain seperti gas dan transportasi. Dita baru bisa menghitung laba setelah seluruh biaya diperhitungkan. Hitungan kecil ini membantu Dita memutuskan apakah ia sanggup menambah porsi pada putaran berikutnya, terutama bila ia hanya punya waktu memasak sebelum kelas pagi.

Dari pembacaan ini, saya mengusulkan tiga pertanyaan sebelum membuka toko daring. Masalah siapa yang ingin kita selesaikan? Siapa yang bersedia memesan dengan harga yang kita tawarkan? Sanggupkah kita memenuhi pesanan itu sesuai janji? Jawaban atas ketiganya membantu pelaku usaha muda menentukan langkah berikutnya. Dita bisa melanjutkan menu yang sama, mengubah waktu pengambilan, atau menunda penambahan stok sampai kas dan waktu pengerjaannya cukup.

Janji pertama ikut diuji

Uji coba kecil tetap melibatkan orang yang mempercayakan uang dan waktunya. Jika Dita menjanjikan pengambilan pukul 12.30, pelanggan bisa mengatur jadwal kuliahnya berdasarkan informasi itu. Jika ada keterlambatan, ia perlu segera memberi kabar dan pilihan yang jelas. Bab 9 menempatkan keputusan seperti ini dalam pembahasan etika bisnis. Dalam konteks perdagangan elektronik, PP Nomor 80 Tahun 2019 menempatkan transparansi sebagai salah satu prinsip. QS An-Nisa ayat 29 juga mengingatkan bahwa perniagaan berlangsung atas dasar kerelaan para pihak. Kerelaan itu lebih bermakna ketika pembeli memahami apa yang ia setujui. PP Nomor 80 Tahun 2019 · Qur’an Kemenag, QS An-Nisa 4:29

Sebagai dosen dan ASN Kementerian Agama, saya melihat kegunaan cara berpikir ini dalam literasi halal. Bayangkan pelaku usaha makanan rumahan membaca materi sosialisasi sertifikasi halal dari ponselnya. Setelah membaca, bisakah ia menjelaskan dengan bahasanya sendiri dokumen apa yang perlu disiapkan dan ke mana ia dapat bertanya? Jika ia masih bingung, pertanyaannya membantu kita menemukan bagian panduan yang perlu diperjelas. Dita belajar hal serupa dari pesan temannya di grup kelas. Sebuah pengumuman baru membantu ketika orang yang membacanya tahu apa yang bisa ia lakukan berikutnya.

Sinopsis buku

Bisnis dan Kewirausahaan di Era Digital: Konsep, Strategi dan Implementasi Praktis ditulis oleh Nur Kumala Dewi, Husnul Khatimah, dan Yuni Astuti Tri Tartiani. Dalam 14 bab, buku ini membahas penciptaan nilai dan kompetensi wirausaha, cara membaca peluang, serta langkah menguji ide dan memulai usaha. Pembaca kemudian diajak mempelajari pengelolaan produk, pemasaran, arus kas, etika, perencanaan bisnis, pengembangan merek, dan pertumbuhan usaha. Bagian akhir membahas bisnis dan pemasaran digital serta menghadirkan studi kasus UMKM, perusahaan rintisan, dan merek Indonesia maupun global. Buku ini diterbitkan oleh PT Cipta Victory Indonesia, cetakan pertama Mei 2026, ISBN 978-634-05-0510-8.

Dita memulai dengan rencana memasak 30 porsi. Ia akhirnya memasak enam porsi dan belajar bahwa jam pengambilan bisa menentukan keputusan orang untuk memesan. Mari membaca buku ini secara utuh sambil membawa satu ide usaha. Catat apa yang berubah setelah kita mendengar calon pembeli, menghitung biaya, dan memenuhi pesanan pertama. Saya mengajak mahasiswa, pendidik, dan pelaku UMKM untuk berdiskusi dan belajar bersama Universitas Saintek Muhammadiyah Jakarta. Dari ruang kelas hingga ruang pelayanan, menjaga kepercayaan dimulai dengan mendengar kebutuhan orang lain dan menepati janji yang kita buat. Bagi saya, itulah salah satu cara sehari-hari mewujudkan cinta kepada Kementerian Agama.