Lewati ke Konten Utama
Masih Ada Harapan: Pengalaman Sesungguhnya

Masih Ada Harapan: Pengalaman Sesungguhnya

Frandika Septa
Penulis
Frandika Septa
Kategori
Opini
Tanggal
27 Oktober 2026
Dilihat
16 Views

Masih Ada Harapan: Pengalaman Sesungguhnya

Oleh Abuzar Asra

Sabtu sore, 24 Oktober 2026, Pak Uba memasuki toilet di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng.

Tak ada yang aneh. Seperti biasanya, seorang petugas kebersihan dengan sigap membersihkan toilet dan menyemprotkan pewangi ke area tempat para pria melepaskan hajat kecil mereka. Lingkungannya bersih dan tidak berbau, sehingga timbul rasa nyaman saat melakukan "ritual alamiah" yang rutin dilakukan itu.

Sebagai tanda apresiasi, Pak Uba menyiapkan uang yang bisa digunakan untuk membeli paket makan malam yang sederhana.

Apa yang terjadi?

Dengan halus, petugas pembersih itu menolak pemberian tersebut. Ia memiliki integritas dan dignity dalam menjalankan pekerjaannya.

Sikap ini sejalan dengan nasihat Nabi kepada seorang pengumpul zakat yang menerima pemberian uang dengan alasan bahwa pemberian itu adalah haknya, karena diberikan kepadanya oleh pembayar zakat. Nabi kemudian bertanya, "Apakah engkau akan diberi uang itu bila engkau bukan seorang pengumpul zakat?"

"Tidak, ya Rasulullah," jawabnya.

"Dengan demikian, uang tersebut harus masuk ke kas negara, karena uang itu muncul berhubungan dengan tugasmu sebagai pengumpul zakat," kata Rasulullah.

Kejadian serupa pernah juga Pak Uba alami saat menginap di sebuah hotel di Chiba, pinggiran kota Tokyo, Jepang, beberapa belas tahun lalu.

Di beberapa negara, seperti Indonesia, Filipina, Bangladesh, dan Thailand, misalnya, petugas yang membersihkan kamar hotel, mengantarkan koper ke kamar, atau mengangkat koper ke bagasi mobil dengan senang hati (bahkan mengharapkan) menerima tips dari tamu hotel. Namun di Chiba, yang terjadi berbeda.

Setelah seorang bell-boy membantu Pak Uba membawa koper dari lobi hotel ke bus yang menunggu di halaman, terlihat rona sedikit tersinggung di wajahnya ketika disodori uang tips, yang lumrah di beberapa negara lain. Akhirnya tips tidak jadi diberikan, dan wajah sang bell-boy kembali cerah.

Kembali ke pengalaman terbaru di Bandara Soekarno-Hatta, ternyata integritas dan dignity dalam bekerja masih ada pada sebagian pekerja blue-collar di tanah air. Entahlah berapa persentase kelompok ini dari keseluruhan pekerja di Indonesia.

Lalu, apakah pekerja white-collar kita, seperti pejabat tinggi di kantor pajak dan bea cukai, anggota DPR dan DPD, serta dosen perguruan tinggi, masih memiliki integritas dan dignity seperti pembersih toilet di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta itu?

Entahlah. Semoga masih ada harapan.


Rawamangun, Kelurahan Jati, Selasa, 27 Oktober 2026, ba'da zuhur.