Lewati ke Konten Utama
Di Balik Layar PJJ: Menjaga Kesehatan Mental dan Semangat Belajar Mahasiswa Kita

Di Balik Layar PJJ: Menjaga Kesehatan Mental dan Semangat Belajar Mahasiswa Kita

Deni Murdiani
Penulis
Deni Murdiani
Kategori
Opini
Tanggal
26 Oktober 2026
Dilihat
13 Views

Pandemi COVID-19 beberapa waktu lalu telah mengubah lanskap pendidikan secara drastis. Dari ruang-ruang kelas yang riuh dengan diskusi langsung, interaksi akademik tiba-tiba berpindah ke dalam kotak-kotak kecil di layar gawai melalui metode Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Sekilas, belajar dari rumah terdengar santai. Namun, di balik layar laptop, tersimpan berbagai cerita tantangan dan kelelahan yang nyata bagi para mahasiswa.

Berdasarkan kajian mendalam yang dilakukan oleh Santi Yudhistira dan Deni Murdiani (2020) terhadap ribuan mahasiswa di Indonesia, terungkap sebuah fakta menarik sekaligus menjadi pengingat bagi kita semua: lebih dari 90% mahasiswa sebenarnya lebih merindukan metode tatap muka di kelas. Mengapa demikian?

Tiga Tantangan Utama PJJ

Penelitian tersebut memetakan berbagai kendala mahasiswa ke dalam tiga kategori besar, yaitu aktivitas belajar, teknologi, serta kondisi pribadi dan lingkungan:

  1. Kendala Teknologi & Jaringan: Akses internet dan ketersediaan kuota masih menjadi menu sarapan sehari-hari. Mahasiswa di luar wilayah Jabodetabek, misalnya, sangat bergantung pada kuota seluler di tengah infrastruktur jaringan yang belum sepenuhnya merata. Biaya tambahan untuk membeli kuota pun menjadi beban tersendiri bagi perekonomian keluarga.
  2. Aktivitas Belajar yang Monoton: Perbedaan metode membuat materi lebih sulit dipahami. Kurangnya interaksi langsung, tugas yang menumpuk, hingga waktu kuliah yang terkadang melenceng dari jadwal membuat efektivitas belajar menurun.
  3. Lingkungan dan Kejenuhan: Rumah yang ramai, minimnya ruang pribadi untuk fokus, serta paparan layar gawai yang terus-menerus memicu kejenuhan akut (burnout).

Ancaman "Kelelahan Akademik" (Academic Burnout)

Dampak dari berbagai kendala ini bukan hanya soal nilai ujian, tetapi juga menyangkut kesehatan mental. Data menunjukkan bahwa sekitar 50,94% mahasiswa mengalami tingkat kelelahan akademik yang tinggi selama menjalani PJJ.

Studi tersebut menegaskan adanya kaitan erat antara perasaan "menikmati atau tidak menikmati" perkuliahan dengan tingkat kelelahan akademik. Mahasiswa yang merasa tertekan dan tidak menikmati metode daring terbukti memiliki peluang jauh lebih besar untuk mengalami kelelahan emosional, sikap sinis terhadap tugas, hingga merasa kehilangan kompetensi diri sebagai pembelajar.

Menatap Masa Depan Pendidikan yang Lebih Humanis

Dari temuan ini, terselip sebuah pelajaran berharga bagi kita di lingkungan perguruan tinggi, termasuk di Universitas Saintek Muhammadiyah. Teknologi dan kelas daring memang telah menjadi keniscayaan masa depan pendidikan. Namun, fleksibilitas digital harus diimbangi dengan pengelolaan sistem pembelajaran yang empati, interaktif, dan berpusat pada mahasiswa (student-centered).

Kampus bukan sekadar tempat mengajar, melainkan ruang tumbuh bersama. Dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa perlu terus bergandengan tangan menciptakan ekosistem belajar yang sehat—di mana kemajuan teknologi berjalan seiring dengan terjaganya kesehatan mental civitas akademika.

Mari terus dukung satu sama lain, karena di balik setiap layar gawai yang lelah, ada semangat generasi muda bangsa yang sedang berjuang untuk masa depan.