Lewati ke Konten Utama
MENELUSURI, MEMINTA, MENGAJAK, DAN MENGIMBAU PARA GENERASI MUDA DAN TUA BEROLAH PIKIR DALAM BERKEMAJUAN ALA KH AHMAD DAHLAN

MENELUSURI, MEMINTA, MENGAJAK, DAN MENGIMBAU PARA GENERASI MUDA DAN TUA BEROLAH PIKIR DALAM BERKEMAJUAN ALA KH AHMAD DAHLAN

Kategori
Artikel
Tanggal
7 November 2026
Dilihat
1 Views

MENELUSURI, MEMINTA, MENGAJAK, DAN MENGIMBAU PARA GENERASI MUDA DAN TUA BEROLAH PIKIR DALAM BERKEMAJUAN ALA KH AHMAD DAHLAN

Oleh: Bambang JB

Pendahuluan: Membuka Kembali Ruang Kesadaran

Perjalanan kehidupan manusia tidak pernah terlepas dari proses berpikir, belajar, memahami, dan melakukan perubahan. Setiap zaman memiliki persoalan yang berbeda, tetapi satu hal yang tidak boleh hilang adalah kemampuan manusia dalam menggunakan akal pikiran untuk menemukan jalan keluar bagi kehidupan yang lebih baik.

Menelusuri perjalanan pemikiran para pendahulu merupakan salah satu cara untuk memahami bagaimana perubahan dibangun. Kita tidak sekadar melihat sejarah sebagai kumpulan peristiwa masa lalu, tetapi menjadikannya sebagai sumber pembelajaran untuk menghadapi kehidupan masa kini dan masa mendatang.

Dalam konteks tersebut, nama KH Ahmad Dahlan menjadi salah satu tokoh penting yang patut ditelusuri pemikiran dan perjuangannya. Beliau bukan hanya dikenal sebagai pendiri Muhammadiyah, tetapi juga sebagai pembaru pendidikan dan kehidupan sosial keagamaan di Indonesia.

Semangat beliau memberikan pelajaran bahwa agama, ilmu pengetahuan, pendidikan, dan kehidupan sosial tidak semestinya berjalan sendiri-sendiri. Semuanya perlu dipertemukan dalam suatu kesadaran untuk membangun manusia yang berilmu, berakhlak, dan bermanfaat bagi masyarakat.

Oleh karena itu, tulisan ini mengandung empat ajakan: menelusuri, meminta, mengajak, dan mengimbau. Keempatnya merupakan rangkaian sikap untuk membangun budaya olah pikir bagi generasi muda dan generasi tua dalam menghadapi perubahan zaman.

Menelusuri: Menggali Pemikiran dan Perjuangan KH Ahmad Dahlan

Menelusuri bukan hanya membaca nama tokoh, mengenal tanggal kelahiran, atau menghafalkan perjalanan hidupnya. Menelusuri berarti berusaha memahami gagasan, keberanian, strategi, dan nilai perjuangan yang diwariskan.

KH Ahmad Dahlan menunjukkan bahwa pembaruan tidak cukup disampaikan melalui perkataan. Pembaruan membutuhkan keberanian untuk melihat kenyataan, mengenali persoalan masyarakat, dan menghadirkan tindakan yang dapat dirasakan manfaatnya.

Salah satu pemikiran penting beliau adalah pembaruan pendidikan melalui perpaduan ilmu agama dan ilmu umum. Pada masa itu, pendekatan tersebut menjadi langkah penting untuk memperluas kesempatan belajar dan membangun manusia yang memiliki wawasan keagamaan sekaligus kemampuan memahami kehidupan dunia.

Pemikiran pendidikan KH Ahmad Dahlan memperlihatkan bahwa kecerdasan tidak semestinya dibatasi oleh sekat-sekat keilmuan. Seseorang perlu memahami ajaran agama, tetapi juga perlu menguasai pengetahuan yang dapat digunakan untuk menjawab persoalan kehidupan.

Hal tersebut sejalan dengan kajian Mohamad Ali, Sodiq Azis Kuntoro, dan Sutrisno tentang pendidikan berkemajuan KH Ahmad Dahlan, yang menekankan penghargaan terhadap akal, pengalaman, dan kemajuan sosial.

Dengan demikian, menelusuri pemikiran KH Ahmad Dahlan berarti mempelajari bagaimana suatu gagasan dapat berkembang menjadi gerakan pendidikan, sosial, dan kemasyarakatan.

Meminta: Menghadirkan Kesediaan untuk Belajar dan Mendengarkan

Meminta dalam konteks ini bukan sekadar meminta seseorang melakukan sesuatu. Meminta merupakan ungkapan kerendahan hati untuk membuka kesempatan kepada sesama agar bersedia memberikan pemikiran, pengalaman, nasihat, dan pandangan.

Kepada generasi muda, kita meminta agar tidak mudah merasa cukup dengan pengetahuan yang diperoleh dari teknologi digital. Informasi yang tersedia begitu luas, tetapi tidak seluruh informasi memiliki kebenaran dan manfaat yang sama.

Kemampuan membaca perlu diikuti kemampuan memeriksa. Kemampuan berbicara perlu diikuti kemampuan mendengarkan. Kemampuan menggunakan teknologi perlu diikuti tanggung jawab moral dalam memanfaatkannya.

Kepada generasi tua, kita juga meminta agar terus membuka diri terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pengalaman panjang merupakan kekayaan yang sangat berharga, tetapi pengalaman akan semakin bermakna apabila bersedia berdialog dengan perubahan zaman.

Tidak ada alasan bagi generasi muda untuk meremehkan pengalaman generasi tua. Sebaliknya, tidak ada alasan bagi generasi tua untuk menutup ruang tumbuh generasi muda.

Keduanya mempunyai kelebihan dan keterbatasan. Generasi tua memiliki pengalaman perjalanan kehidupan, sedangkan generasi muda memiliki kesempatan untuk mengembangkan gagasan baru dengan dukungan perkembangan teknologi.

Pertemuan kedua generasi tersebut dapat melahirkan pemikiran yang lebih matang.

Mengajak: Membudayakan Olah Pikir yang Terbuka dan Berkemajuan

Mengajak merupakan langkah untuk menggerakkan kesadaran bersama. Berolah pikir tidak berarti sekadar memikirkan sesuatu tanpa tujuan, melainkan mengembangkan kemampuan memahami persoalan secara kritis, logis, sistematis, dan bertanggung jawab.

Dalam semangat KH Ahmad Dahlan, ilmu seharusnya tidak berhenti pada penguasaan teori. Ilmu perlu diterjemahkan menjadi tindakan yang memberikan manfaat.

Kita dapat mengambil pelajaran dari pendekatan beliau dalam mengajarkan Surah Al-Ma'un. Ajaran agama tidak cukup dipahami sebagai bacaan, tetapi perlu diwujudkan melalui kepedulian terhadap anak yatim dan masyarakat yang membutuhkan pertolongan.

Di sinilah pentingnya hubungan antara berpikir, memahami, dan bertindak.

Generasi muda perlu diajak untuk:

  1. Mengembangkan kebiasaan membaca dan meneliti.
  2. Membangun kemampuan berpikir kritis dan kreatif.
  3. Menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.
  4. Mengembangkan ilmu pengetahuan untuk menjawab kebutuhan
  5. Menjaga akhlak, kejujuran, dan kepedulian sosial.

Sementara itu, generasi tua perlu diajak untuk:

  1. Membagikan pengalaman dan pengetahuan kepada generasi berikutnya.
  2. Mengembangkan kebiasaan berdialog tanpa merasa paling benar.
  3. Menerima perubahan yang membawa kemaslahatan.
  4. Memberikan kesempatan kepada generasi muda untuk berinovasi.
  5. Menjadi teladan dalam kejujuran, kedisiplinan, dan tanggung jawab.

Apabila kedua generasi tersebut dapat berjalan bersama, maka olah pikir tidak lagi menjadi kegiatan individual. Ia berkembang menjadi budaya bersama yang menghasilkan kemajuan.

Mengimbau: Jangan Berhenti Berpikir dan Jangan Takut Berubah

Mengimbau merupakan bentuk kepedulian terhadap perjalanan kehidupan masyarakat. Imbauan ini ditujukan kepada siapa pun yang memiliki kesempatan untuk belajar dan memberikan kontribusi.

Jangan sampai usia muda menjadi alasan untuk merasa paling mengetahui segalanya. Jangan pula usia tua menjadi alasan untuk berhenti mempelajari sesuatu yang baru.

Kemajuan bukan monopoli kelompok tertentu. Kemajuan merupakan kesempatan bersama yang membutuhkan keterbukaan, kerja sama, dan kesediaan memperbaiki diri.

Dalam menghadapi perkembangan kecerdasan buatan, digitalisasi, ekonomi, pendidikan, dan perubahan sosial, masyarakat membutuhkan kemampuan untuk memilah informasi dan mengambil keputusan secara bijaksana.

Teknologi dapat membantu manusia mengolah data, tetapi manusia tetap membutuhkan pertimbangan moral. Kecerdasan buatan dapat memberikan jawaban, tetapi manusia harus tetap memeriksa kebenaran, konteks, dan dampaknya.

Oleh sebab itu, semangat berkemajuan tidak boleh diartikan sebagai mengikuti semua perubahan tanpa pertimbangan. Berkemajuan berarti mampu menerima hal-hal baik, mengevaluasi kekurangan, dan mengembangkan sesuatu yang bermanfaat tanpa meninggalkan nilai-nilai kebenaran.

Olah Pikir Lintas Generasi: Menyatukan Pengalaman dan Pembaruan

Kita perlu membangun ruang pertemuan antara generasi muda dan tua. Ruang tersebut dapat diwujudkan melalui keluarga, sekolah, perguruan tinggi, organisasi kemasyarakatan, lingkungan kerja, dan kegiatan sosial.

Dalam keluarga, orang tua dapat mengajarkan nilai kehidupan, sedangkan anak dapat memperkenalkan perkembangan pengetahuan dan teknologi.

Di sekolah dan perguruan tinggi, pendidik dapat memberikan fondasi keilmuan, sementara peserta didik didorong untuk mengembangkan penelitian, kreativitas, dan inovasi.

Di dalam organisasi, para pemimpin senior dapat membagikan pengalaman kepemimpinan, sedangkan kader muda dapat memberikan perspektif baru untuk menghadapi tantangan zaman.

Hubungan tersebut bukan hubungan persaingan, melainkan hubungan saling melengkapi.

Kita dapat merumuskan pola olah pikir berkemajuan melalui lima tahapan:

Pertama, mengamati. Mengenali keadaan dan persoalan yang terjadi di lingkungan sekitar.

Kedua, menelusuri. Mencari sumber pengetahuan, sejarah, pengalaman, dan bukti yang relevan.

Ketiga, menganalisis. Menggunakan akal sehat, logika, ilmu pengetahuan, dan pertimbangan nilai.

Keempat, berdialog. Mempertemukan berbagai pandangan untuk mendapatkan pemahaman yang lebih luas.

Kelima, mengamalkan. Mengubah hasil pemikiran menjadi tindakan yang memberikan manfaat.

Pola ini merupakan rumusan pengembangan penulis yang terinspirasi oleh semangat pendidikan dan pembaruan KH Ahmad Dahlan, bukan kutipan langsung dari beliau.

Berkemajuan Bukan Sekadar Menjadi Modern

Perlu dipahami bahwa kemajuan tidak hanya diukur dari banyaknya gedung, tingginya teknologi, besarnya kekayaan, atau luasnya penguasaan informasi.

Kemajuan juga perlu diukur dari kualitas manusia dalam menggunakan semua pencapaian tersebut.

Apa artinya teknologi berkembang apabila manusia semakin jauh dari kejujuran?

Apa artinya pendidikan semakin tinggi apabila kepedulian sosial semakin rendah?

Apa artinya pengetahuan semakin luas apabila seseorang tidak bersedia menghargai pendapat orang lain?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut perlu menjadi bahan renungan bersama.

Semangat KH Ahmad Dahlan mengajarkan pentingnya menghubungkan pemahaman agama dengan realitas kehidupan. Oleh karena itu, kemajuan harus berjalan bersama pembentukan akhlak, tanggung jawab sosial, dan kebermanfaatan.

Bagi generasi muda, keberhasilan bukan hanya tentang mendapatkan pekerjaan dan kedudukan. Keberhasilan juga tentang bagaimana ilmu dan kemampuan digunakan untuk memberikan manfaat.

Bagi generasi tua, keberhasilan bukan hanya tentang apa yang pernah dicapai, melainkan juga tentang apa yang dapat diwariskan kepada generasi selanjutnya.

Dengan demikian, kemajuan merupakan perjalanan yang tidak mengenal batas usia.

Membangun Keberanian Berpikir dan Kesediaan Beramal

Salah satu tantangan masyarakat adalah kesenjangan antara pengetahuan dan pelaksanaan. Banyak orang mengetahui sesuatu yang baik, tetapi belum tentu bersedia mengerjakannya.

Ada yang mampu berbicara tentang pendidikan, tetapi belum tentu memberikan kesempatan belajar kepada orang lain. Ada yang memahami pentingnya kebersihan, tetapi belum tentu menjaga lingkungannya. Ada yang mengetahui pentingnya persatuan, tetapi masih mudah mempertentangkan perbedaan.

Di sinilah diperlukan keberanian untuk mengubah pemikiran menjadi perbuatan.

Meneladani semangat KH Ahmad Dahlan berarti tidak berhenti pada kekaguman terhadap tokoh, tetapi berusaha meneruskan nilai perjuangannya dalam bentuk kegiatan nyata.

Kita dapat memulainya dengan membangun kelompok diskusi, kegiatan membaca, penelitian sederhana, pendampingan pendidikan, pengembangan usaha masyarakat, dan kegiatan sosial.

Setiap kegiatan dapat menjadi ruang pembelajaran. Tidak harus selalu dimulai dengan sesuatu yang besar. Perubahan dapat tumbuh dari langkah kecil yang dilakukan secara konsisten.

Berpikir Bersama, Bergerak Bersama, dan Berkemajuan Bersama

Menelusuri, meminta, mengajak, dan mengimbau merupakan empat sikap yang dapat menjadi pintu masuk untuk membangun kesadaran lintas generasi.

Menelusuri mengajarkan kita untuk tidak melupakan sumber pembelajaran. Meminta mengajarkan kerendahan hati untuk mendengarkan. Mengajak mengajarkan kebersamaan dalam membangun pemikiran. Mengimbau mengingatkan kita agar tidak berhenti belajar dan memperbaiki diri.

KH Ahmad Dahlan memberikan teladan bahwa pembaruan membutuhkan pemikiran, keberanian, pendidikan, dan tindakan nyata.

Kepada generasi muda, jangan takut mengembangkan gagasan, tetapi tetaplah berpijak pada akhlak dan tanggung jawab.

Kepada generasi tua, jangan berhenti berbagi pengalaman, tetapi tetaplah membuka ruang bagi pembaruan.

Kepada seluruh elemen masyarakat, mari kita jadikan ilmu sebagai penerang, akal sebagai sarana memahami, agama sebagai landasan nilai, dan amal sebagai wujud kebermanfaatan.

Sebab, berkemajuan bukan sekadar bergerak mengikuti waktu, melainkan kemampuan manusia untuk menggunakan waktu dengan pemikiran dan tindakan yang lebih baik.

Mari berolah pikir tanpa merasa paling pintar, berdialog tanpa saling merendahkan, belajar tanpa mengenal usia, dan beramal tanpa menunggu pujian.

Semoga semangat pembaruan KH Ahmad Dahlan terus hidup dalam kesadaran generasi muda dan tua, sehingga kemajuan tidak hanya terlihat dalam perkembangan zaman, tetapi juga tumbuh dalam kualitas akhlak, ilmu pengetahuan, dan kepedulian terhadap sesama.