Glembuk
Mutiara Hati
GLEMBUK
Oleh Bambang JB
Glembuk dalam pergaulan Jawa dikenal sebagai bujukan atau rayuan yang dapat bermakna halus, tetapi bisa pula menjadi tipu daya.
Di kota tertentu, istilah ini sering terdengar untuk menggambarkan kepandaian merayu atau memperdaya orang.
Namun, jangan menilai seluruh warga suatu kota dari perilaku sebagian orang.
Alloh SWT berfirman, “Janganlah kamu campuradukkan kebenaran dengan kebatilan.” (QS. Al-Baqarah: 42).
Rosululloh SAW bersabda, “Hendaklah berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Glembuk yang bertujuan menipu bukanlah kecerdikan, melainkan pengkhianatan terhadap kepercayaan.
Imam Al-Ghazali mengingatkan pentingnya menjaga lisan dan membersihkan hati dari sifat tercela.
Lisan yang manis belum tentu mencerminkan hati yang tulus.
Jangan mudah percaya pada rayuan, tetapi periksalah kebenaran melalui bukti dan perbuatan.
Gunakan kata-kata untuk mendamaikan, bukan memperdaya; untuk menguatkan, bukan merugikan sesama.
Sebab, kejujuran membangun kepercayaan, sedangkan kebohongan menghancurkan persaudaraan.
"Manisnya kata dapat menawan telinga, tetapi hanya kejujuran yang menenteramkan jiwa; jagalah lisan, luruskan niat, dan muliakan sesama.”